Menjaga Hutan, Menjaga Marwah Melayu: Apresiasi atas Kepemimpinan Ekologis Bupati Siak Afni Zulkifli

Riau24 Dilihat

Pekanbaru (Bingkairiau.com) – Setiap peristiwa akan lahir cerita, dan setiap tragedi akan lahir nama indah semerbak melati. Pun demikian dengan tragedi asap karhutla di Riau tahun ini. Ada satu nama yang cemerlang, diantara nama- nama pemimpin daerah Riau yang seakan lelap tertidur -Mudah mudahan bukan nuraninya yang terlelap-. Namanya adalah Afni Zulkifli, Bipati Siak.

Dia memang perempuan, tapi keteguhannya menjaga alam adalah kesatria melampaui sekian banyak pemimpin laki-laki yang ada di Riau.

Betapa tidak, ketika banyak pemimpin, jangankan bertindak, berbicarapun tidak, Afni tampil reflektif, gercep, segera menanami bekas lahan terbakar dengan tanaman hutan. Ini bukan sekedar bersaing dengan rencana jahat kapilatisasi lahan, tapi strategi pemulihan hutan untuk masa depan Siak.

 

Hebatnya lagi, aksi ini tidak dilakukan secara personal sebagai upaya membangun citra, tapi dilaksanakan secara kolektif sebagai bentuk gerakan semesta. Aksi penanaman tanaman hutan dilakukan bersama Forkopimda, TNI, Polri, pelajar, dan masyarakat di bekas lahan terbakar di Kawasan Industri Tanjung Buton.

Penanaman pada lahan eks karhutla seluas sekitar 4,5 hektare, menggunakan pohon asli seperti pulai dan petai, menunjukkan bahwa penghijauan bukan sekadar seremoni, melainkan usaha serius untuk memulihkan ekosistem gambut dan melindungi ruang hidup masyarakat Siak.�

Dalam pandangan budaya Melayu, alam bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi. Hutan, sungai, rawa, dan gambut adalah bagian dari tatanan kehidupan yang harus dijaga agar manusia tetap selaras dengan lingkungannya. Nilai adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah menempatkan perlindungan alam sebagai amanah moral dan spiritual, bukan sekadar kebijakan administratif. Oleh karena itu, menanam kembali pohon pada lahan bekas kebakaran merupakan perbuatan yang sejalan dengan etika Melayu: menjaga keseimbangan, menghormati warisan leluhur, dan memikul tanggung jawab bagi generasi mendatang.

Aksi ini juga penting karena kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan di Siak tidak boleh dipandang remeh. Data BPBD Kabupaten Siak mencatat luas karhutla pada Januari–Juni 2024 mencapai 19,79 hektare dari 93 titik panas; pada periode yang sama tahun sebelumnya, luas karhutla mencapai 57,05 hektare. Kebakaran terluas pada 2024 terjadi di Kecamatan Sungai Apit seluas 15,74 hektar.

Dalam kerangka yang lebih panjang, catatan mengenai dinamika karhutla di Siak juga menunjukkan bahwa luas kebakaran pada 2022 tercatat sekitar 24,7 hektar, kemudian meningkat menjadi 39,24 hektare hingga Agustus 2023. Data ini menegaskan bahwa ancaman karhutla masih nyata dan menuntut kebijakan preventif yang konsisten, terutama pada lahan gambut yang sangat rentan terbakar.

Komitmen Bupati Afni Zulkifli untuk menghijaukan kembali lahan eks karhutla memiliki makna yang lebih dalam ketika dibaca dari perspektif kepemimpinan Melayu. Dalam tradisi Melayu, pemimpin bukan hanya pengelola kekuasaan, tetapi penjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan masyarakat. Kepemimpinan yang baik diukur dari kemampuannya melindungi rakyat, menjaga kehormatan daerah, dan menolak penguasaan atas sumber daya yang seharusnya menjadi milik bersama.

Penanaman pohon pada lahan bekas kebakaran dengan tegas menyatakan bahwa lahan tersebut tidak boleh dibiarkan berubah menjadi kebun sawit ilegal. Ini adalah bentuk perlawanan yang elegan terhadap ambisi kapital yang menginginkan alih fungsi hutan dan gambut demi kepentingan ekonomi jangka pendek. Dengan menanam pohon asli, Pemerintah Kabupaten Siak menegaskan bahwa hutan adalah rumah kolektif masyarakat Melayu, bukan komoditas yang bebas dikuasai.

Kami menilai langkah ini sebagai wujud kepemimpinan ekologis yang berakar pada budaya. Ia bukan hanya soal menanam pohon, tetapi soal menanam kesadaran; bukan hanya memulihkan lahan, tetapi memulihkan hubungan masyarakat dengan alamnya. Dalam bahasa budaya Melayu, ini adalah usaha menjaga alam takambang jadi guru: alam yang terjaga akan menjadi guru, pelindung, dan sumber kehidupan bagi seluruh masyarakat Siak.

Semoga gerakan ini terus diperluas ke seluruh titik eks karhutla di Kabupaten Siak dan menjadi teladan bagi pemerintah daerah lain di Riau. Selamat dan sukses kepada Bupati Siak, Ibu Afni Zulkifli.

 

Atas Aksi hebat ini saya atas nama Dekan Fakultas Studi Islam Universitas Muhammadiyah Riau, menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bupati Siak, Ibu Afni Zulkifli, yang telah berkomitmen nyata dalam menjaga hutan, memulihkan lahan gambut, dan menegakkan prinsip keberlanjutan di Kabupaten Siak.

 

Ditulis oleh:

Dr. Santoso, S. S., M. Si

Dekan Fakultas Studi Islam

Universitas Muhammadiyah Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *