• Follow Us On : 

SOSIALISASI KURIKULUM PEMBINAAN SEPAKBOLA INDONESIA DI KABUPATEN SIAK

SOSIALISASI KURIKULUM PEMBINAAN SEPAKBOLA INDONESIA DI KABUPATEN SIAK
Selasa, 20 Desember 2022 - 06:13:18 WIB
Penulis: Ricky Fernando, Universitas Islam Riau
 
Kurikulum merupakan acuan yang mendasar dalam menjalankan pembinaan yang berkelanjutan. kurikulum menjadi pedoman bagi seorang pelatih dalam menjalankan pelatihannya kepada siswa sehingga tidak terjadi kesalahan dalam proses pembinaannya. Implemtasi dari pada kurikulum sepakbola itu sendiri adalah mencapai usia emas pemain yang diharapkan, mempertahankan usia emas pemain selama mungkin, memperlambat penurunan usia emas pemain tersebut. 
 
Danurwindo,Dkk (2015:2) menjelaskan alur dari kurikulum sepakbola tersebut adalah:(1) tes awal semua komponen dalam sepakbola, (2) program latihan, (3) game dan kompetisi, (4) classroom dan video analisis, (5) Ektra Training, (6) evaluasi, (7) report. Berdasarkan penjelasan diatas komponen-kompenen pendukung dalam mecetak pemain yang unggul harus menjalankan dan melalui fase-fase yang cukup panjang. 
 
Kelemahan sepakbola Indonesia adalah konsistensi pembinaan dari usia dini hingga usia muda yang mana pada bebarapa tahun terakhir terputus sehingga berdampak pada kualitasnya saat berada pada jenjang senior. Untuk menghindari inkonsistensi pemain para seluruh stakeholder sepakbola Indonesia harus bekerja keras baik dari pengurus maupun club amatir sampai club profesional.
 
Untuk melalui fase tersebut dibutuhkan kurikulum sebagai role of model dalam membentuk pemain yang ideal untuk perkembangan sepakbola daerah maupun pemain nasional. Pemahaman pelatih dalam mejalankan kurikulum sepakbola Indonesia sudah menjadi hal yang sangat vital dikarenakan kurikulum yang sudah dibentuk harus diperkecil menjadi rencana program jangka panjang. 
 
Pembinaan dan pengembangan sepakbola merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas TimNAs indonesia. keberhasilan pembangunan TimNAs indonesia sangat tergantung kepada beberapa faktor diantaranya kualitas pembinaan pada usia muda. dengan demikian upaya peningkatan kualitas pemain secara fisik, teknik, taktik, mental sebagai sasaran maupun sebagai tujuan suatu pelatihan haruslah melalui konsep yang terarah. Atas dasar itulah maka hasil-hasil pengkajian ilmiah yang berkaitan dengan peningkatan kualitas cara bermain sepakbola harus perlu dihimpun dan diaplikasikan dalam sistem pembinaan persepakbolaan. saat ini persaingan sepakbola dikancah dunia sangat mempunyai daya saing yang tinggi
Analisa sepakbola yang digunakan pelatih lebih kepada bahasa subjektif baik di dalam latihan maupun dalam pertandingan namun seringkali Bahasa tersebut kontraproduktif. Masalah sepakbola yang dihadapi Indonesia tidak terdefenisikan secara tegas contoh “pemain main tidak dengan hati”,pemain  asal lari”dan bahasa lainnya yang sering di ungkapkan pelatih. Ketidakmampuan seorang pelatih menstrukturkan persoalan sepakbola dengan Bahasa sepakbola. 
 
Tamboer dalam Danurwindo,Dkk (2015:4) menjelaskan bahwa sepakbola perlu dipandang dalam kacamata teori aksi. Dimana aksisepakbola yang dimaksud bukanlah kata sifat atau kata benda melainkan kata kerja. Dimana kata kerja disini adalah aksi bukanlah gerakan. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa aksi disini merupakan suatu aktivitas dalam konteks interaksi. Sedangkan gerakan adalah mekanika gerak yang independen.
 
Seharusnya pelatih mampu menjelaskan bahasa permainan sepakbola yang sederhana bagaimana cara pemain melakukan pressing di sepertiga area lapangan lawan. Bagaimana melakukan pressing di area lawan sepanjang waktu permainan dari 20’,30’40’hingga 90 menit tetap konsisten dalam aksi sepakbola. dan yang paling penting bagaimana atlet mampu memahami bahasa sepakbola yang sederhana, peran dari pelatih adalah bagaimana mengajarkan atletnya seperti mengajarkan posisi bermain timing, arah, kemudian transisisi. Struktur permainan sepakbola yang logis ini penting untuk diketahui agar tercipta suatu referensi sepakbola yang objektif. 
 
Dalam struktur permainan sepakbola aka nada terjadi perpindahan momen momen bertahan ke menyerang, momen menyerang ke bertahan perpindahan momen ini di tandai dengan transisi dari bertahan ke menyerang dan menyerang ke bertahan dimana penanda disini yang dimaksud adalah merebut bola (transisi posistif) atau kehilangan bola (transisi negative).
 
Danurwindo,Dkk (2015:4) menjelaskan bahwa pada permainan sepakbola momen menyerang di bagi dua fase penyelesaian serangan berujung gol, penyelesaian serangan berujung pada penguasaan bola kembali sama dengan netral, penyelesaian serangan berujung pada kehilangan bola. Kemudian momen berikutnya adalah bertahan pada momen ini juga dibagi dua fase yaitu fase mengganggu lawan bangun serangan, fase mencegah lawan selesaikan serangan. 
Berdasarkan ungkapan di atas bahwa permainan sepakbola membutuhkan aksi pada ketiga momen dalam permainan sepakbola bagaimana bertahan bagaimana menyerang dan kemudian transisi. Hal ini dibutuhkan pemahaman bermain dimulai dari usia dini sampai usia senior untuk membantu menciptakan sepakbola Indonesia ke top level asia. Dalam tuntutan sepakbola berbagai aspek umum dalam permainan sepakbola sangat penting yaitu aspek teknik, taktik, fisik, dan mental. Dalam hal spesifikasi permainan sepakbola komunikasi, keputusan, eksekusi, tempo tinggi 90’, taktik tim, taktik individu, teknik, fisik.
 
1.1 Fundamental
Dalam phase ini setiap anak harus diberikan banyak pengalaman gerak sebagai dasar dalam meningkatkan kemampuan motorik yang ada didalam tubuhnya dengan berbagai macam metode yang menyenangkan sehingga setiap anak mampu untuk mengikuti proses tersebut sehingga dengan tidak sadar kemampuan motoriknya berkembang dan ini sangat bagus untuk mempercepat keterampilan sepakbola pada tahap berikutnya.
 
1.2 Learning to train (Fase Pengembangan Keterampilan)
Dalam tahap ke 2 sesuai dengan perkembangan biologis baik usia maupun perkembangan secara fisologisnya anak akan menjalankan fase dimana anak mulai belajar berlatih sepakbola. Bagian terpenting latihan adalah yang bersifat teknis. sangat baik dalam usia ini mengembangkan teknik dan pengertian akan taktik dasar. kemampuan anak-anak untuk mengatasi masalah akan berkembang dengan pesat. maka pemain harus mulai diajarkan taktik dasar yang dinamis. Pada tingkat ini, pemain ada pada masa pra puber dan memiliki masalah keterbatasan fisik terutama pada kekuatan dan ketahanannya. latihan fisik yang diberikan hanya sebatas kecepatan dengan bola, kelincahan (agility) dan koordinasi.
 
Kemampuan anak-anak untuk mengatasi masalah akan berkembang dengan pesat. maka pemain harus mulai diajarkan taktik dasar yang dinamis. Pada tingkat ini, pemain ada pada masa pra puber dan memiliki masalah keterbatasan fisik terutama pada kekuatan dan ketahanannya. latihan fisik yang diberikan hanya sebatas kecepatan dengan bola, kelincahan (agility) dan koordinasi. Pembinaan dan pengembangan sepakbola merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas TimNAs indonesia. keberhasilan pembangunan TimNAs indonesia sangat tergantung kepada beberapa faktor diantaranya kualitas pembinaan pada usia muda. dengan demikian upaya peningkatan kualitas pemain secara fisik, teknik, taktik, mental sebagai sasaran maupun sebagai tujuan suatu pelatihan haruslah melalui konsep yang terarah. Atas dasar itulah maka hasil-hasil pengkajian ilmiah yang berkaitan dengan peningkatan kualitas cara bermain sepakbola harus perlu dihimpun dan diaplikasikan dalam sistem pembinaan.
 
1.3 Training to train ( Fase Pengembangan Permainan)
Dalam fase ini dimana setiap anak harus mampu dan mengikuti proses latihan yang sudah dibuat sesuai dengan perkembangan dan tahapan latihan dimana setiap anak harus bisa melewati latihan dri yang termudah ke yang sulit dan dari yang lambat ke yang cepat sehingga akan terjadi sebuah otomatisasi gerak yang sangat baik dalam bermain sepakbola. Para pemain pada usia ini telah memiliki peningkatan yang baik tentang pengertian permainan. di lain pihak pada umur ini pemain dibatasi oleh keterbatasan fisik dan perubahan-perubahan fisik yang muncul seiring dengan masa pubertas.
 
2.5 Training to competition ( Fase Permainan)
Dalam fase ini setiap anak dipersiapkan baik secara individu ataupun tim agar mampu berkompetisi satu sama lain dengan kompetisi yang baik. Pada tahap ini setiap anak harus ditunjang dengan kemampuan fisik,tehnik,taktik dan mental yang harus diasah dengan baik secara berkesinambungan. Pemain pada usia ini memiliki pertumbuhan fisik dan mental yang lebih lengkap. semua bagian dari latihan dapat dikombinasikan dan diorganisasikan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi tertinggi dari pemain. kekuatan otot membantu mereka untuk mengembangkan teknik dengan kecepatan tinggi dan kecepatan ini membantu pemain untuk bereaksi lebih cepat pada situasi taktis. Tingkat ini sangat penting untuk menggabungkan semua bagian dari pelatihan sepak bola dengan tujuan untuk menyempurnakan pemahaman pemain.
 
 
METODE PELAKSANAAN
A. Pendekatan Pengabdian Mayarakat
Pengabdian ini menggunakan pendekatan pelatihan dan pendampingan. Pada kegiatan sosialisasi ini, pengabdi melakukan sosialisasi sekaligus pendampingan tentang penerapan kurikulum peminaan sepakbola. Pada kegiatan pertama pengabdi melakukan penjelasan dan sosialisasi terkait kurikulum pembinaan sepakbola Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan penerapan kurikulum sekaligus program latihan. Pada kegiatan ini diharapkan para pelatih muda mampu menerapkan kurikulum pembinaan sepakbola, khususnya dikabupaten siak.
 
B. Sasaran Kegiatan 
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di jalan pemda mempura kabupaten siak bekerjasama dengan dispora kabupaten siak. Sasaran dari pengabdian masyarakat ini para pelatih muda dan pelatih sekolah sepakbola yang belum tersertifikasi. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan materi sosialisasi kurikulum sepakbola Indonesia hal ini bertujuan untuk sebagai pedoman para pelatih dalam meningkatkan kualitas pemain sepakbola yang unggul di kabupaten siak. Sasaran pengabdian yaitu para pelatih ssb (sekolah sepakbola) di kabupaten siak. jumlah peserta pelatih sebanyak 25 orang pelatih dari klub ssb yang ada dikabupaten siak.
 
C. Tempat Pengabdian
Tempat pelaksanaan pengabdian masyarakat di pusatkan di lapangan sepakbola mempura kabupaten siak untuk mempermudah koordinasi pelaksanaan kegiatan.
 
D. Waktu Kegiatan
Kegiatan ini dilakukan selama 2 hari yaitu tanggal 2 sampai 3 september 2022, dengan  tahapan sosialisasi dan diikuti dengan pendampingan.
 
E. Kriteria Keberhasilan
Untuk menilai kriteria keberhasilan dalam suatu kegiatan ini yakni banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan (80% dari yang diundang), meningkatnya pemahaman pelatih mengenai kurikulum pembinaan sepakbola, meningkatnya kemampuan pelatih dalam memberikan istruksi pelatihan. Untuk mengetahui efektivitas dan kebermanfaatan penyelenggaraan pengabdian dilakukan wawancara dengan beberapa peserta
 
 
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Kegiatan 
 
Percepatan pembinaan sepakbola merupakan salah satu yang sudah di lakukan pengurus PSSI di pusat. Namun untuk di daerah masih minim dilakukan percepatan pembinaan sepakbola. Kelemahan sepakbola Indonesia adalah konsistensi pembinaan dari usia dini hingga usia muda yang mana pada bebarapa tahun terakhir terputus sehingga berdampak pada kualitasnya saat berada pada jenjang senior
Untuk melalui fase tersebut dibutuhkan kurikulum sebagai role of model dalam membentuk pemain yang ideal untuk perkembangan sepakbola daerah maupun pemain nasional. Pemahaman pelatih dalam mejalankan kurikulum sepakbola Indonesia sudah menjadi hal yang sangat vital dikarenakan kurikulum yang sudah dibentuk harus diperkecil menjadi rencana program jangka panjang. 
 
Pembinaan dan pengembangan sepakbola merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas TimNAs indonesia. keberhasilan pembangunan TimNAs indonesia sangat tergantung kepada beberapa faktor diantaranya kualitas pembinaan pada usia muda. dengan demikian upaya peningkatan kualitas pemain secara fisik, teknik, taktik, mental sebagai sasaran maupun sebagai tujuan suatu pelatihan haruslah melalui konsep yang terarah. Atas dasar itulah maka hasil-hasil pengkajian ilmiah yang berkaitan dengan peningkatan kualitas cara bermain sepakbola harus perlu dihimpun dan diaplikasikan dalam sistem pembinaan persepakbolaan.  
 
Melalui sosialisasi dan pendampingan pembinaan sepakbola diharapkan dapat meningkatkan kualitas sepakbola, menanamkan nilai-nilai yang termasuk kedalam tiga aspek penting dalam, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam pelaksanana pengabdian tersebut, yaitu pendekatan pelatihan dan pendampingan. Pada kegiatan pertama, yaitu sosialisasi, para pelatih mendapatkan cara penerapan kurikulum pembinaan sepakbola berbasis sport science. Selanjutnya, peserta mendapatkan pelatihan mengenai cara-cara dalam melaksanakan tugas kepelatihan sepakbola. Pada pelaksanaan pelatihan, nampak sekali bahwa para peserta pelatihan yang terdiri dari 25 orang pelatih sangat antusias dalam mengikuti pelatihan tersebut. Para peserta pelatihan sangat aktif mengajukan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan penerapan pelatihan sepakbola dan mengutarakan permasalahan-permasalahan yang mereka miliki pada saat membina anak anak didiknya. Terjadi dialog dua arah yang aktif dalam pelatihan ini. Para pelatih sangat antusias dalam mengikuti pelatihan ini karena mereka menganggap bahwa sosialisasi sekaligus pelatihan ini sangat penting dan dapat memberikan informasi terbaru bagi para pelatih muda yang belum tersetifikasi.
 
 
B. Pembahasan Kegiatan 
Rangkaian kegiatan pengabdian tidak hanya meliputi kegiatan sosialisasi serta penerapan kurikulum pembinaan sepakbola. Namun kegiatan juga diberikan semacam bentu pelatihan bagaimana penerapan kurikulum kemudian di implementasikan dengan program latihan berbasis sport sciene. Kegiatan selanjutnya yang dilakukan sebagai rangkaian dalam kegiatan pengabdian ini adalah pelatihan. Pada kegiatan pelatihan, peserta pelatihan diberikan kesempatan untuk mempraktikkan informasi dan pengetahuan mereka yang berkaitan dengan penerapan pelatihan sepakbola. Masing-masing peserta pelatihan memperoleh tugas untuk membuat sebuah praktek melatih sepakbola. Diberikannya tugas ini diharapkan para peserta dapat mempergunakan pengetahuan mereka secara langsung atas bimbingan yang dilakukan para pemateri (pelaksana kegiatan pengabdian). Bimbingan ini sangat bermanfaat bagi para peserta, karena pada saat mereka memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan praktek pembinaan sepakbola yang sedang mereka kerjakan, mereka langsung dapat menanyakan kepada pemateri. 
 
C. Diskusi 
Pada akhir kegiatan kegiatan sosialisasi, para peserta pelatihan  memperoleh informasi yang sangat berguna untuk menambah pengetahuan mereka tentang penerapan program latihan sepakbola berdasarkan kurikulum pembinaan sepakbola dan pengetahuan mereka tentang praktek sepakbola usia dini dan usia muda yang sudah lama tidak terpakai dapat disegarkan kembali. Sebagian besar para peserta pelatihan jarang sekali mengikuti pelatihan, sehingga pengetahuan mereka tentang penulisan karya ilmiah masih cenderung minim. Selain memperoleh materi yang berkenaan dengan praktek melatih sepakbola, para peserta juga mendapatkan contoh-contoh praktek melatih sepakbola yang baik, yang dapat mereka gunakan sebagai acuan dalam parketeka melatih yang akan mereka laksanakan. Rangkaian kegiatan pengabdian tidak hanya meliputi kegiatan sosialisasi saja namun juga diperkuat dengan praktek. Kegiatan selanjutnya yang dilakukan sebagai rangkaian dalam kegiatan pengabdian ini adalah pelatihan. Pada kegiatan workshop, peserta pelatihan diberikan kesempatan untuk mempraktikkan informasi dan pengetahuan mereka yang berkaitan dengan praktek melatih. Masing-masing peserta pelatihan memperoleh tugas untuk membuat sebuah desain praktek melatih uisa dini dan usia muda. Diberikannya tugas ini diharapkan para peserta pelatihan dapat mempergunakan pengetahuan mereka secara langsung atas bimbingan yang dilakukan para pemateri (pelaksana kegiatan pengabdian). 
 
 
BAB V 
KESIMPULAN dan SARAN
 
A. Kesimpulan
 
Berdasarkan kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan, kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut.
1. Pengabdian sosialisasi kurikulum pembinaan sepakbola Indonesia di kabupaten siak
2. Pengabdian berupa pendampingan dan pelatihan penerapan kurikulum dan praktek melatih siswa sekolah sepakbola usia dini dan usia muda di kabupaten siak telah terlaksana sesuai dengan jadwal dan kriteria keberhasilan.
 
B. Saran
Saran yang diajukan berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan          pengabdian adalah
sebagai berikut.
1. Hendaknya dilaksanakan kegiatan lanjutan sebagai tindak lanjut atas kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan, berupa pendampingan pelaksanaan praktek melatih usia dini dan usia muda.
2. Selain kegiatan sosialisasi pelatihan, pendampingan pada pelaksanaan praktek melatih, hendaknya ditindaklanjuti pula dengan kegiatan pendampingan pelaporan pelatihan.
 
 
DAFTAR REFERENSI
Balyi, I., & Hamilton, A. (2004). Long-Term Athlete Development: Trainability In Childhood and Adolescence. Juornal Olympic Coachoach, 16(1), 4–9.
Carling, C., Bloomfield, J., Nelsen, L., & Reilly, T. (2008). The Role of Motion Analysis in Elite Soccer. Sports Medicine, 38(10), 839–862. https://doi.org/10.2165/00007256-200838100-00004
Danurwindo, Putera, G., Sidik, B., & Prahara, J. L. (2017). Kurikulum Pembinaan Sepak Bola Indonesia. High Performance Unit Football Association of Indonesia. www.pssi.org
Gunawan, E. (2019). Design by Yuas and R2 Bramistra SEPAK BOLA. Academia, 2(1), 1–14.
Hasyim & Saharullah. (2019). Dasar-Dasar Ilmu Kepelatihan. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 53, Issue 9).
Kendall, K., & Badau, D. (2013). Anthropometric and Sport- Measures in Youth Judo At ... Journal OfStrength and Conditioning Research, 27(2), 331–339.
Muzaffar, A., & Sandi, S. (2018). Sepakbola.
Rahmanta, Pramudita Ardi Akhiruyanto, A., & Rustiadi, T. (2021). Survei Pembinaan Klub Sepakbola PS. AD Kota Semarang. Indonesian Journal for Physical Education and Sport, 2(1), 250–257. https://doi.org/https://doi.org:10.15294/INAPES.V2I1.44522
Surapana, P., & Syafii, I. (2020). Tingkat Pemahaman Pelatih Sekolah Sepakbola Terhadap Kurikulum Sepakbola Indonesia Filanesia Di Kabupaten Kediri Pada Tahun 2020 Putra Surapana. Urnal Prestasi Olahraga, 4(3), 136–143. putrasurapana16060474103@mhs.unesa.ac.id
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Akses www.bingkairiau.com Via Mobile m.bingkairiau.com
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER