• Follow Us On : 

Kembali, KGB Pekanbaru Lakukan Temu Pendidik Tempat Berbagi Strategi Belajar dan Pengalaman

Kembali, KGB Pekanbaru Lakukan Temu Pendidik Tempat Berbagi Strategi Belajar dan Pengalaman
Sabtu, 15 Desember 2018 - 07:17:34 WIB
Pekanbaru (Bingkai Riau) - Komunitas Guru Belajar (KGB) merupakan wadah untuk saling transformasi ilmu. Untuk kedua kalinya, KGB Pekanbaru turut berpartisipasi dalam gerakan Temu Pendidik pada Sabtu (15/12/2018) di ruang Multi media SMPN 8 Pekanbaru. 
 
Menurut salah satu penggerak KGB, Atikah Hermansyah MPd, KGB adalah komunitas pendidik untuk berdiskusi dan berbagi strategi belajar praktik cerdas pengajaran dan berbagi pengalaman. Bukan hanya guru-guru di Pekanbaru saja yang tertarik, tapi banyak dari daerah lain. 
 
"Kita kembali menggelar Temu Pendidik bagi guru-guru yang ada di Riau. Alhamdulillah, jumlah peserta kali ini bertambah dari sebelumnya. Kedepan kita akan buat KGB di masing-masing kabupaten di Riau. Antusias terlihat dari pertemuan di bulan Desember ini, ada dari Tembilhan, Pelalawan bahkan narsumnya dari Kampar," ujar Tika sapaan akrab Atikah Hermansyah.   
 
Tika menyampaikan, hadir sebagai nara sumber Tri Goesema Putra dengan materi "Pemanfaatan Smartphone Untuk Pembelajaran" dan Yulismar dengan materi "Mengembangkan Bakat Literasi Peserta Didik".
 
Tri Goesema Putra S.MPd salah satu narsum dan juga merupakan Kepala SMKN 1 XIII Koto Kampar serta Instruktur pelatihan nasional dalam materinya (Pemanfaatan Smartphone Untuk Pembelajaran) menyampaikan, di zaman milenium ini, perkembangan teknologi sudah memperlihatkan dampak yang signifikan. Terutama di bidang pendidikan yang sekarang sudah diwarnai dengan pengaruh globalisasi. Salah satu perkembangan teknologi yang sangat pesat dan digunakan sebagai media pembelajaran adalah smartphone.
 
"Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan dengan media-media pendukung seperti smartphone. Kehadiran smartphone sebagai media pendukung proses belajar menjadi sangat dibutuhkan untuk penerapan," kata Tri.
 
Tri menambahkan, disertai dengan internet, kecanggihan smartphone untuk mengakses berbagai macam informasi akan lebih cepat dan mudah. Proses pembelajaran antara guru dan siswa juga akan lebih interaktif. Dengan adanya smartphone, guru akan semakin berkembang dalam penyampaian pembelajaran yang modern. Siswa juga akan lebih bersemangat dalam menerima materi pembelajaran yang tidak membosankan. 
 
"Namun, dibalik dampak positif yang ada pasti terdapat dampak negatif yang akan timbul ketika pemakaian smartphone diluar kegiatan seorang pelajar. Sehingga para guru dan orang tua lah yang seharusnya mengawasi dalam penggunaan smartphone agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan," ungkapnya. 
 
Sementara Yulismar yang juga Guru SMPN 8 Pekanbaru, dengan materi ( Mengembangkan Bakat Literasi Peserta Didik) menjelaskan, pendidikan berbasis budaya literasi, merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di sekolah guna memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri siswa.
 
"Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini. Rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan," jelas Yulismar. 
 
Yulismar menambahkan, praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.
 
"Hendaklah guru belajar untuk mengetahui tujuan mengajar dan apa manfaatnya bagi siswa dari materi yang diajarkan dan menyampaikan hal tersebut sebelum memulai pembelajaran. Karena dengan mengetahui manfaatnya, akan dapat menambah motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran," tuturnya.
 
Dikatakannya, untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
 
"Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik," pungkasnya. (ade)

Akses www.bingkairiau.com Via Mobile m.bingkairiau.com
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER